Cerita Tentang Seandainya

5 Nov

Seandainya saya punya banyak uang, pasti hidup saya tidak akan semenderita ini. Dengan uang yang berlimpah saya akan membeli semua yang saya inginkan. Dengan uang yang berlimpah saya akan tinggal di sebuah rumah mewah yang sangat megah. Dengan uang yang berlimpah saya tidak akan kepanasan ataupun kehujanan saat berkendara. Dengan uang yang berlimpah, saya mampu membeli kamu, dia dan mereka. Apa saja dan siapa saja yang saya inginkan.

Lalu, kalau sudah berlimpah dengan uang, pasti saya akan berkhayal lagi.

Seandainya saya punya tubuh dan wajah yang sempurna. Dengan kecantikan dan kesempurnaan raga saya akan memikat semua pria yang saya inginkan. Dengan kecantikan dan kesempurnaan raga saya akan menjadi salah satu orang yang dibicarakan. Dengan kecantikan dan kesempurnaan raga saya akan mendapat banyak kemudahan. Dengan kecantikan dan kesempurnaan raga saya akan mendapatkan keistimewaan dari kamu, dia dan mereka. Semua memuja saya.

Ah, kalau saya sudah berlimpah uang, cantik dan memiliki kesempurnaan raga, pasti saya akan berkhayal lagi.

Seandainya saya memiliki otak yang brilian. Dengan otak yang brilian saya tidak akan dipandang sebelah mata lagi oleh orang-orang disekitar saya. Dengan otak yang brilian saya akan menemukan hal-hal baru yang lebih disukai daripada sebuah social media ataupun sebuah merk gadget yang sekarang sedang happening. Dengan otak yang brilian saya tidak akan lagi dimanfaatkan oleh pria-pria yang hanya menginginkan harta saya ataupun tubuh saya saja. Dengan otak yang brilian saya akan memiliki lebih banyak investasi yang tentu saja akan menambah nilai kekayaan saya. Dengan otak yang brilian saya akan menjadi lebih berharga, apalagi saya berlimpah uang dan memiliki kesempurnaan raga.

Lalu apa lagi?

Saya sudah sempurna. Dengan uang yang berlimpah, dengan kecantikan dan kesempurnaan raga, dengan otak yang sangat brilian pasti saya akan bahagia. Saya tidak akan kesepian karena saya dapat membeli teman-teman untuk menemani saya. Saya tidak akan mudah menyusun rencana liburan karena saya tinggal membeli tiket dan memesan kamar hotel di segala penjuru dunia. Saya tidak akan kehabisan model pakaian karena saya akan sangat sibuk untuk berbelanja disetiap tempat yang menjual koleksi designer, dari yang terkenal sampai yang tidak bernama.

Saya sudah sempurna. Dengan uang yang berlimpah, dengan kecantikan dan kesempurnaan raga, dengan otak yang sangat brilian pasti saya akan sering kebingungan juga. Saya pasti akan kebingungan mengatur jadwal kencan dengan berbagai macam pria. Kemungkinan besar saya tidak akan mempunyai teman wanita. Saya pasti akan kebingungan memilih hotel dengan harga termahal untuk mendapat fasilitas yang sangat jempolan dan tidak mengecewakan. Kemungkinan besar saya akan mencobai setiap penthouse yang disediakan. Selain itu, saya pasti akan bingung memakai semua koleksi belanja saya yang bertumpuk di sebuah kamar dalam rumah megah saya yang nyaman bagai hotel bintang lima. Kemungkinan besar sebagian dari barang-barang itu hanya akan saya pakai sekali saja.

Hmmm, memang beda ya kesenangan dan kebingungan orang kaya, cantik luar biasa dan pintar bukan kepalang

Kalau sudah seperti itu, pasti saya tidak punya teman betulan. Pasti orang-orang disekitar saya hanya menjilat pada kekayaan saya. Kalau sudah seperti itu berarti tidak akan ada lagi acara nongkrong semalaman di angkringan untuk menikmati seporsi nasi kucing, sate usus dan gorengan. Kalau sudah seperti itu tidak akan ada lagi canda-tawa tidak berkesudahan untuk sebuah guyonan murahan. Kalau sudah seperti itu tidak akan ada lagi patungan untuk menyewa ruangan karaoke di awal bulan.

Lalu?

Kalau sudah seperti itu, saya pasti tidak akan punya pacar betulan. Pasti pria-pria yang datang menawarkan cinta untuk saya hanya tergiur dengan kecantikan dan kesempurnaan raga saya, atau malah pada uang saya. Kalau sudah seperti itu berarti tidak akan lagi ada kalimat “menerima apa adanya.” Kalau sudah seperti itu berarti tidak akan ada ketulusan dalam setiap kasih saying yang diberikan oleh pria-pria itu. Kalau sudah seperti itu tidak akan ada lagi curhat-curhat picisan tentang masa depan dan mimpi panjang yang harus diwujudkan.

Apakah saya siap?

Kalau sudah seperti itu saya pasti tidak akan menghargai orang lain. Dengan kepintaran yang saya punya saya akan mendapat sebuah jabatan penting dengan gaji yang tidak sedikit. Kalau sudah seperti itu saya akan memiliki banyak sekali bawahan yang mungkin tidak akan saya hapalkan namanya satu persatu. Kalau sudah seperti itu saya akan menjadi seorang yang sangat bossy dan sangat suka memerintah orang lain untuk melakukan berbagai hal kecil yang seharusnya bisa saya lakukan sendiri. Kalau sudah seperti itu saya akan menyepelekan orang lain dan tidak mau menerima masukan dari siapapun.

Banggakah saya menjadi orang yang seperti itu?

Mudah-mudahan bahan perenungan ini bisa menyadarkan kita bahwa tidak ada kesempurnaan dalam hidup ini. Hidup hendaknya tidak tercekat ataupun terlalu melekat pada segala sesuatu.

Bisa menghargai kehidupan dan bersyukur atas anugerah Tuhan untuk kita, itulah jalan terbaik untuk menjalani hidup dengan sukacita, bebas tanpa tekanan, bahagia tanpa nelangsa. Bisa tahu berpuas diri, menghargai berkah, barulah bisa berbahagia selamanya.

About these ads

One Response to “Cerita Tentang Seandainya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: